Sumber: goriau.com

Perusahaan Sukanto Tanoto memiliki beberapa cara dalam mewujudkan praktek industri yang berkelanjutan. Selain dengan aktif menjalankan program pertanggungjawaban sosial (CSR), grup bisnis Royal Golden Eagle (RGE) yang dipimpin Sukanto Tanoto juga terus mengembangkan diri demi meningkatkan efisiensi produksi.

Pengembangan efisiensi produksi ini dilakukan dengan beberapa cara. Selain dengan memanfaatkan teknologi, RGE juga aktif melakukan riset. Pada 1 September 2019 lalu, salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto, yakni PT RAPP mengambil langkah yang lebih maju. Kerinci Tissue Culture Laboratory pun resmi beroperasi dan akan menjadi salah satu pusat riset sekaligus pembibitan APRIL Group.

Gedung Kerinci Tissue Culture (KTC) Laboratory Sebagai Pusat Riset Perusahaan Sukanto Tanoto

PT RAPP yang membangun KTC Laboratory merupakan salah satu unit bisnis APRIL Group yang juga dikenal sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Produksi tahunan APRIL Group mencapai 2,8 ton pulp dan 1,15 ton kertas dengan area pemasaran yang sangat luas.

Salah satu produk APRIL Group, yakni PaperOne telah digunakan oleh jutaan orang di lebih dari 70 negara. Selain memiliki kualitas flagship, produk ini juga terbuat dari bahan yang diambil dari bahan-bahan alami yang diambil dari sumber-sumber terbarukan.

Dengan jumlah produksi yang begitu besar, bahan baku yang dibutuhkan tentunya tidak sedikit. Membuka lahan baru jelas bukan solusi terbaik. Selain mahal, hal tersebut juga bisa memberi dampak buruk bagi lingkungan.

Hal ini menjadi salah satu dasar bagi perusahaan Sukanto Tanoto untuk mengembangkan bibit eukaliptus yang mampu memanfaatkan lahan secara lebih optimal. Efisien dalam memanfaatkan lahan namun juga mampu memberi hasil yang lebih maksimal.

Pembangunan gedung Kerinci Tissue Culture (KTC) Laboratory oleh perusahaan Sukanto Tanoto merupakan perwujudan dari komitmen grup RGE dalam mewujudkan praktek bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Di laboratorium ini, para peneliti PT RAPP akan mengembangkan bibit yang dapat mengoptimalkan lahan yang terbatas.

Sebanyak 125 peneliti yang berada dalam departemen RnD (Research and Development) bekerja di KTC Laboratory. Para peneliti ini tidak hanya meneliti benih eukaliptus namun juga menyeleksi benih terbaik yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Produksi benih eukaliptus di KTC Laboratory dilakukan dengan menggunakan teknologi kultur jaringan. Sebanyak 16 growth room tersedia dalam gedung tersebut. Dengan fasilitas tersebut, ditargetkan setiap tahunnya PT RAPP mampu memproduksi 36 juta bibit eukaliptus.

Inovasi Demi Efisiensi Produksi

Riset mendorong inovasi. Melalui inovasi inilah, perubahan ke arah yang lebih baik dapat dipicu. Hal tersebut sangat disadari oleh perusahaan Sukanto Tanoto. Untuk alasan ini jugalah, RGE tidak pernah berhenti berinovasi.

Pembangunan gedung KTC Laboratory hanyalah salah satu cara yang ditempuh perusahaan dalam mewujudkan efisiensi produksi. Selain meningkatkan efisiensi produksi melalui pembibitan, APRIL Group juga memastikan praktek efisiensi air dan energi.

Efisiensi pemanfaatan air dilakukan dengan cara mendaur ulang air sungai dan menjaga jumlah konsumsi air selama proses produksi agar lebih sedikit dari ketentuan standar internasional. Pemanfaatan teknologi pengolahan air ini tidak hanya membantu perusahaan menekan biaya produksi. Masyarakat sekitar juga ikut merasakan manfaatnya.

Perusahaan Sukanto Tanoto juga selalu mengupayakan terwujudnya zero waste dalam operasional produksinya serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah produksi dan mengolahnya menjadi sumber energi. Dari total konsumsi energi APRIL Group, sebanyak 85% di antaranya berasal dari biofuel. Efisiensi seperti ini tidak hanya menguntungkan dari sisi materi namun juga membantu mengurangi emisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *