TRIBUNNEWSWIKI – Mengenal Hematoma Subdural, Darah Menumpuk di Antara Dua Lapisan di Otak

<div ><div id='Informasi'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Subdural hematoma atau juga disebut perdarahan subdural adalah kondisi ketika darah menumpuk di antara dua lapisan di otak, yaitu lapisan arachnoid dan lapisan dura atau meningeal. Faktor faktor tertentu dapat meningkatkan risiko terserang hematoma subdural:

Dalam kebanyakan kasus, hematoma subdural ini muncul karena cedara kepala yang parah. Pada kondisi ini, darah akan mengisi area otak dengan cepat. Kondisi inilah yang akhirnya bisa menyebabkan hematoma subdural akut. Selain cedera kepala yang parah, hematoma subdural juga bisa terjadi akibat cedera kepala yang ringan.

Kondisi ini umumnya terjadi pada lansia atau orang tua karea pembuluh darahnya umumnya sudah melonggar akibat atrofi otak. Ada kemungkinan kondisi ini tak diektahui hingga beberapa hari, bahkan minggu. Dalam dunia medis kondisi ini disebut dengan hematoma subdural “kronis”

<div ><div id='Gejala'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Ketika seseorang mengalami hematoma subdural, maka dirinya akan mengalami beberapa gejala medis. Gejala ini bergantung pada tingkat keparah cedera yang dialami, ukuran, dan lokasi hematoma.

Gejala dapat segera muncul atau beberapa minggu setelah cedera. Namun, ada pula beberapa orang yang terlihat baik baik saja (lucid interval) setelah mengalami cedera. Namun, lama kelamaan tekanan pada otak dapat menyebabkan gejala:

<div ><div id='Pengobatan'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Untuk menentukan pengobatan hematoma subdural, dokter pastinya akan memperhatikan kondisi klinis dan radioligis pasien. Dalam masa mempersiapkan operasi, perhatian hendaknya ditujukan ke pengobatan dengan medikamentosa untuk menurunkan peningkatan tekanan intrakranial.

Contohnya, dalam pemberiaan manitol 0,25 gram pada per kilogram berat badan pasien, atau pula furosemide 10 miligram intravena, dihiperventilasikan. Andaikan ditemukan adanya gejala gejala progresif, baik pada kasus akut maupun kronik, tindakan operasi akan dilakukan untuk mengeluarkan hematom. Namun, sebelum mengambil keputusan operasi, dokter akan memperhatikan berbagai hal.

Misalnya airway, breathing, dan circulation. <div > Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *